Headlines News :
'
Home » » Bagaikan satu tubuh

Bagaikan satu tubuh

Written By Al-ghuraba on Senin, 23 Agustus 2010 | Senin, Agustus 23, 2010

"Bahkan darah dengan darah, dan kebinasaan dibalas dengan kebinasaan. Aku adalah bagian dari kalian dan kalian adalah bagian dari diriku. Aku akan memerangi siapapun yang memerangi kalian dan aku akan berdamai dengan siapapun yang kalian berdamai dengannya".

Itu adalah jawaban yang diberikan Rasulullah saw saat menjawab pertanyaan abul haitsam bin at-tîhân pada baiat aqobah kedua, tatkala abul haitsam bertanya kepada Rasulullah saw : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya antara kami dan orang-orang selain kami (yaitu yahudi) ada hubungan persahabatan. Jika kami memutuskan hubungan itu dengan mereka, lalu apakah jika kelak ALLAH memberikan kemenangan, engkau akan kembali lagi keharibaan kaummu dan meninggalkan kami ?"…. Yang kemudian Rasulullah saw menjawabnya dengan tegas penuh tanggungjawab.

Subhânallâh... Penggalan kisah diatas bukanlah sesuatu yang khayal dan ideal tanpa makna, tetapi ia merupakan suatu isyarat yang sarat dengan "pesan" dan petunjuk yang mengarahkan kita sebagai ummat Muhammad serta tauladan yang harus kita tapaki untuk diikuti jejaknya.

Persaudaraan dalam islam adalah persahabatan yang teramat kokoh dan kuat melebihi ikatan tali persahabatan manapun. Terlebih persaudaraan itu dengan sosok seorang pembawa risalah seperti dalam kisah diatas, ia merupakan tali ikatan yang melahirkan pengorbanan yang total yang dimiliki manusia untuk menyelamatkan risalah yang dibawanya disatu sisi, dan jawaban Rasulullah saw disisi lain yang menunjukkan bukti timbal balik atas kesetiakawanan yang tinggi dengan bentuk pengorbanan yang total pula sebagai konsekwensi ikatan itu.

Islam sudah memberikan wejangan sejak dini akan nilai persaudaraan ini,bahwa sesungguhnya seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya. Rasulullah saw bahkan menyebutkan dalam hadits shohih, "Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai , saling mengasihi dan saling menyayangi diantara mereka, adalah bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya menderita sakit, maka seluruh tubuhnya juga merasakan (penderitaannya) dengan tidak bisa tidur dan demamnya" (HR. al-Bukhari & muslim).

Tidak diragukan lagi bahwa persaudaraan itu adalah sesuatu yang semestinya dibuktikan dalam amal nyata dan bukan hanya teori semata. Sehingga seorang mukmin harus merasakan penderitaan yang diderita oleh saudaranya, ia harus menyatu dengan saudaranya pada apa yang didapatkan oleh saudaranya,dalam perkara yang baik ataupun yang buruk. Jika saudaranya mendapatkan kebahagiaan maka iapun harus berbahagia karenanya, dan tidak boleh dengki karenanya. Demikian pula disaat saudaranya menerima cobaan musibah yang menimpanya dia harus ikut prihatin dan sedih. Tak terkecuali jika saudaranya memerlukan pertolongan baik memintanya ataupun tidak meminta (karena menjaga sifat 'iffah pada dirinya) ia harus memberikan pertolongan dan kepedulian semaksimal yang ia mampu, itulah nilai dari sebuah persaudaraan. Seorang mukmin tidak merasa tenang selama saudaranya terkena bencana… seorang mukmin akan mendidih darahnya tatkala kehormatan saudaranya ternodai.

Namun demikian tidak jarang terjadi seorang mukmin tidak ambil peduli dengan apapun yang menimpa saudaranya, kecintaan dan sifat mengasihi yang seharusnya dimiliki sesama orang-orang beriman sudah sedemikian pudar seiring dengan pola hidup manusia yang sudah semakin dijauhkan dari nilai-nilai persaudaraan yang sesungguhnya. Acapkali pertolongan itu diberikan dengan terlambat dan dalam bentuk yang paling sepele, itupun setelah melalui proses seleksi yang ketat agar dia merasa tidak rugi dibuatnya, semuanya dihitung dengan hitungan matematika rasio akal untung dan rugi secara materi, dan ia melupakan pahala dan karunia di sisi ALLAH Yang Amat Luas jika ia mampu berkorban karena mengharap ridlo-Nya.

Ketiadaan rasa belas kasih dan persaudaraan sesama orang-orang beriman akan berakibat kepada terabaikannya sebagian mukmin yang memang memerlukan pertolongan saudaranya. Sebab pada dasarnya sifat peduli untuk menolong akan tumbuh jika memiliki rasa belas kasih dan persaudaraan yang kokoh. Semakin kuat rasa belas kasih dan semakin kokoh tali persaudaraannya, maka semakin besar pula kepedulian untuk memperhatikan dan menolong saudaranya. Bahkan bentuk pertolongan itu akan muncul tanpa harus diminta terlebih dahulu, bahkan kepedulian itu akan lahir tanpa harus diingatkan terlebih dahulu. Namun jika rasa belas kasih itu tidak dimiliki dan ikatan tali persaudaraan hanya sebatas slogan semata, maka jangankan bentuk pertolongan dan pembelaan sampai pengorbanan yang maksimal dengan darah dan nyawa seperti yang disebutkan Nabi saw,… bentuk perhatian walau hanya dengan mencari tahu kabarnya saja sudah terasa membuatnya "gerah".

Betapa banyak kondisi yang menimpa umat islam semakin terpuruk karena tidak ada rasa solidaritas persaudaraan lagi. Baik dalam hal kemiskinan, kemaksiyatan,kebodohan maupun luka dan hilangnya nyawa kaum muslimin akibat perilaku zhalim musuh-musuh ALLAH. Sedikit sekali diantara orang-orang mukmin yang tergerak untuk memberikan andilnya dalam bentuk amal nyata persaudaraan yang semestinya, walau dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun (kecuali yang ALLAH rahmati). Ketika saudaranya mendapat tekanan secara fisik yang diakibatkan oleh musuh-musuh islam dan eksistensi dien islam juga terancam, mayoritas mukminin hanya memicingkan mata, dan tidak ingin kesibukan dan kesenangannya terganggu sama sekali. Padahal dalam kondisi demikian, bentuk kesetiakawan dan solidaritas persaudaraan yang sesungguhnya dalam bentuk yang total harus diwujudkan, walau harus dengan hilangnya nyawa sekalipun.

Kemanakah slogan "bagaikan satu tubuh" itu dibuang ? dan dimanakah sifat belas kasih antara sesama mukmin itu hari ini?... bukankah islam ternodakan dibanyak tempat ? …. bukankah saudara-saudara mukmin terzhalimi dan terhinakan ?... Adakah kita hanya sebatas mendengungkan ayat bahwa Rasulullah saw sebagai tauladan sementara tidak mengikuti apa yang sudah dicontohkan beliau dalam mewujudkan persaudaraan dan pembelaan kepada Diennya ?. Sungguh apa yang diucapkan beliau saw ; "Bahkan darah dengan darah, dan kebinasaan dibalas dengan kebinasaan…" bukan hanya omong kosong,…. bahkan beliau sudah membuktikannya sendiri dengan keringat dan darahnya yang suci,… bahkan beliau sudah berkorban dengan harta yang dimilikinya untuk mewujudkan persaudaraan dan pembelaan terhadap Dien ini… !.

Wallahu a'lam.

Share this article :

1 komentar:

  1. kok gini mas "bahkan darah dengan darah' gak salah ta kata pertamanya itu?

    BalasHapus

alhamdulillah, semoga blog ini tetap eksis dan bermanfaat untuk ummat, bagi izzul Islam walmuslimin.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Al-ghuraba - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template