Headlines News :
Home » » Mengapa Madinah menjadi pilihan tempat hijrah ?

Mengapa Madinah menjadi pilihan tempat hijrah ?

Written By Al-ghuraba on Selasa, 07 Desember 2010 | Selasa, Desember 07, 2010

*** Edisi Tahun Baru, Selasa, 01 Muharram 1432 H.

"Aku membai'at kalian agar kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi istri dan anak-anak kalian", begitu sabda Rasûlullâh Shollallâhu alaihi wasallam . Lalu secepat itu, disahut oleh Al-Barra` bin Ma'rur dengan memegang tangan beliau seraya berkata,"Benar,… Demi Yang Mengutusmu dengan kebenaran,… kami benar-benar akan melindungimu sebagaimana kami melindungi istri-istri kami. Maka bai'atlah kami wahai Rasûlullâh. Demi ALLÂH, kami orang-orang yang mahir dalam berperang dan mengepung musuh. Kami mewarisinya sejak dahulu".

Itulah sepenggalan dialog dari peristiwa Bai'at Aqobah kedua. Janji sumpah setia yang dilakukan oleh orang-orang yastrib (baca: Madinah) setelah keislaman mereka. Mereka mengucapkannya dihadapan Rasûlullâh Shollallâhu alaihi wasallam sebagai perwujudan loyalitas mereka kepada Rasûlullâh dan sekaligus pembelaan yang total kepada risalah yang dibawanya.

Peristiwa inilah sebenarnya yang melatarbelakangi beliau dan kaum Muslimin kemudian pada akhirnya hijrah ke Madinah. Yang kemudian datangnya perintah ALLAH Azza wa Jalla untuk hijrah. Dan Madînah itulah tempat yang dipilihkan ALLÂH untuknya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari ,dari Aisyah, ia berkata,"Rasûlullâh Shollallâhu alaihi wasallam bersabda,(yang artinya) :"Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku tempat tujuan hijrah kalian, yang memiliki kebun korma yang terletak diantara dua dataran yang subur".

Sekilas memang tidak begitu istimewa peristiwa bai'at aqobah diatas. Namun apabila kita selami lebih dalam, maka kita akan dapatkan bahwa sesungguhnya ia merupakan kejadian yang luarbiasa yang mengawali hijrah beliau dan kaum Muslimin saat itu. Betapa tidak,… Kaum Muslimin sudah melewati masa-masa sulit mempertahankan aqidah mereka di Mekah dengan sikap permusuhan yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin Mekah kepada kaum Muslimin . Ejekan, siksaan, boikot, penjara, merampas dan bahkan pembunuhan. Mereka lakukan semua itu terhadap orang-orang lemah dari orang-orang yang menyatakan keislamannya dan menjadi pengikut agama baru yang dibawa Rasûlullâh Shollallâhu alaihi wasallam.

Nabi Shollallâhu alaihi wasallam sendiri tak luput dari bencana dan sikap permusuhan ini. Bahkan beliau sendiri orang yang paling berat mendapatkan ujian tersebut, sebab dimata orang-orang Quraisy, pada beliaulah sumber itu bermula, sehingga mereka bersungguh-sungguh untuk memadamkan cahaya ALLÂH dengan cara "melenyapkan"nya. Karena dengan cara itulah dakwah Islam yang mengajak manusia untuk penyembahan kepada ILAAH yang satu itu akan terhenti :

"Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci".(QS.61 : 8).

"Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya".(QS.8 : 30 ).

Disaat Rasûlullâh Shollallâhu alaihi wasallam dan kaum Muslimin seperti inilah, ALLÂH mendatangkan sebagian penduduk Yastrib ke Mekah. Yang sebenarnya niat mereka untuk melaksanakan ibadah haji di tanah suci sebagaimana yang biasa mereka lakukan sebelumnya. Dan ALLÂH Maha Mengatur terhadap apa saja yang ada dimuka bumi, hingga akhirnya dengan taqdir-Nya,pada tahun ke 11 kenabian, 6 orang dari mereka bertemu dengan Rasûlullâh dan menyatakan keislamannya.

Berawal dari 6 Orang inilah dakwah islam tersebar di Madînah. Mereka berjanji untuk menyampaikan dakwah islam disana. Hingga pada pada musim haji berikutnya, datanglah sekelompok penduduk Yastrib menjumpai Rasûlullâh Shollallâhu alaihi wasallam yang jumlahnya 12 orang dan menyatakan bai'at, yang dikenal dengan bai'at aqobah pertama. Adapun isi bai'at kala itu berkisar pada janji setia untuk tidak bermaksiyat kepada ALLÂH. Pada bai'at aqobah I tidak ada perihal perang dan perlindungan didalamnya. Sehingga bai'at ini dikenal dengan bai'at Nisa (bai'at wanita) karena seperti itu pulalah butir-butir bai'at yang dilakukan para wanita saat penaklukan Mekah.

Mush'ab bin Umair Rodhiyallâhu anh memiliki peranan penting dalam penyebaran islam di Madînah, sebab dia merupakan duta Rasûlullâh mendakwahkan islam di sekitar Madînah. Dengan kepiawaiannya berdakwah dan kesabarannya banyak diantara penduduk Madînah yang tertarik memeluk islam dan menganutnya. Sampai-sampai para kepala suku seperti Sa'ad bin Mu'adz dan Usaid bin Hudhair yang mana dengan keislaman keduanya menjadikan pemeluk islam dimadinah semakin banyak, sebab kaum mereka mengikuti jejak para tokoh sukunya.

Ditahun berikutnya, tahun ke-13 kenabian, sekelompok penduduk Madînah datang ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. Dan saat itulah mereka menyatakan Bai'at Aqobah kedua yang monumental ini. 73 orang mengikuti bai'at yang bersejarah ini. Diantara mereka selain lelaki ada juga 3 orang wanita. Diantara mereka pula ada yang sudah menganut islam sebelumnya, tetapi ada pula yang secara dadakan diajak untuk bertemu dengan Nabi dan menyatakan keislamannya serta berbai'at saat itu juga.

Sesungguhnya peristiwa disebut peristiwa monumental karena didalam butir-butirnya terdapat butir-butir sumpah setia yang terkait urusan agama dan militer didalamnya. Janji setia yang memerlukan pengorbanan yang luarbiasa. Pengorbanan dengan nyawa dan darah mereka untuk membela islam dan Melindungi Nabi Shollallâhu alaihi wasallam. Oleh sebab itulah, sebelum pelaksanaan bai'at ini, al-Abbas (paman Nabi) mengingatkan kepada Nabi dan orang-orang Madînah ini untuk memikirkan dalam-dalam sebelum berjanji setia ini. Sebab ia berimplikasi resiko bagi mereka dan juga bagi Nabi secara khusus. Al-Abbas sebagai paman merasa sayang dengan keponakannya ini, walaupun sebenarnya kala itu ia masih musyrik.

Namun, Orang-orang Yastrib ini benar-benar menyadari akan resiko ini dan pertanggungjawabannya. Lalu diantara mereka berkata,"Kami sudah mendengar apa yang engkau sampaikan". Lalu ia berkata kepada Rasûlullâh Shollallâhu alaihi wasallam,"Wahai Rasûlullâh,… putuskanlah apa yang engkau sukai bagi diri engkau dan Rabbmu".

Subhaanallah, Sungguh itu adalah jawaban yang menunjukkan semangat,… hasrat yang menggelora, .. keberanian,.. iman dan ketulusan dalam mengemban tanggungjawab serta apapun akibatnya dikemudian hari. Hingga akhirnya Rasûlullâh merasa yakin dan tentram akan kesungguhan mereka dan terjadilah bai'at aqobah tersebut.

Adapun butir-butir bai'at tersebut sebagai berikut :

  1. Untuk mendengar dan taat dalam keadaan semangat dan malas
  2. Untuk menafkahkan harta tatkala dalam keadaan sulit dan lapang
  3. Untuk menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar
  4. Untuk berjihad Fii sabilillah dan tidak merisaukan celaan para pencela
  5. Hendaklah kalian menolong jika aku datang kepada kalian, melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri, istri dan anak-anak kalian,…. dan bagi kalian adalah surga.

Bai'at ini menjadi tonggak pertama untuk mulai babak baru menyebarkan dakwah diluar Mekah yang dilengkapi perlindungan dan pembelaan kaumnya secara total. Dan Bisa dibayangkan resiko dan konsekwensi logis dari perlindungan yang akan mereka berikan kepada Rasûlullâh Shollallâhu alaihi wasallam yang saat itu sedang menjadi musuh orang-orang quraisy. Posisi Nabi yang saat itu sebagai "DPO" harus dibarengi dengan ketulusan dan keberanian luar biasa untuk melindunginya serta "dibayar" dengan "harga" yang mahal. Tetapi jawaban dari mereka cukup membuktikan keberanian dan kesungguhan ini , "Benar,… Demi Yang Mengutusmu dengan kebenaran,… kami benar-benar akan melindungimu sebagaimana kami melindungi istri-istri kami. Maka bai'atlah kami wahai Rasûlullâh. Demi ALLÂH, kami orang-orang yang mahir dalam berperang dan mengepung musuh. Kami mewarisinya sejak dahulu".

Tiada lagi rasa takut pada diri mereka, tiada lagi ambisi kesukuan dan kebangsaan pada diri mereka. Mereka sepakat untuk memberikan yang terbaik bagi kelangsungan dakwah dan Risalah yang dibawa oleh Nabi yang mulia.

Demikian pula timbal baliknya apa yang dijanjikan oleh Rasûlullâh Shollallâhu alaihi wasallam kepada mereka, tatkala diantara mereka (Abul Haitsam) berkata,"Wahai Rasûlullâh,… sesungguhnya diantara kami dan orang-orang selain kami (yahudi) ada hubungan persahabatam. Jika kami memutuskan hubungan itu dengan mereka, apakah jika ALLÂH (kelak) sudah memberi kemenangan kepada engkau , maka engkau akan pergi meninggalkan kami?".

Rasûlullâh Shollallâhu alaihi wasallam tersenyum mendengar hal ini, lalu bersabda,"Darah dengan darah…. kematian dengan kematian… Aku adalah bagian dari kalian dan kalian adalah bagian dari diriku,… Aku memerangi siapapun yang memerangi kalian,… dan aku berdamai dengan siapapun yang berdamai dengan kalian".

Sikap pembelaan dan perlindungan yang timbal balik. Wujud persaudaraan yang haqiqi yang menjalar dalam setiap tubuh orang-orang beriman, tak terkecuali dari Rasûlullâh Shollallâhu alaihi wasallam sebagai teladan dalam perkara ini.

Sempurnalah sumpah setia,… sempurna pulalah keyakinan dan ketentraman jiwa Rasûlullâh Shollallâhu alaihi wasallam disatu sisi dan para shahabat anshar disisi yang lain. Mereka menjadi satu keutuhan tubuh yang akan saling merasakan bahagia dan derita. Mereka saling melindungi laksana sebuah keluarga. Mereka bertekad untuk bersama-sama menjaga kehormatan mereka. Mereka siap untuk bahu membahu terjun dalam segala perintah yang diperintahkan ROBB kepada mereka, apapun bentuknya. Mereka menyiapkan puncak pengorbanan mereka walau dengan darah dan kematian sekalipun.

Dari sinilah tonggak ini bermula….. Perintah ALLÂH pun datang , kaum Muslimin diperintahkan untuk hijrah ketempat ini, begitu pula junjunan kita yang mulia, Rasûlullâh Shollallâhu alaihi wasallam pembawa risalah islam dan tauhid yang suci. Madînah,… itulah tempat yang mereka diperintahkan untuk hijrah kesana, karena disana sudah ada orang-orang anshar para penolong dalam urusan dunia dan akherat mereka,…para lelaki yang siap menghunus pedangnya untuk menolong dan melindungi mereka... Karena disana telah siap para kesatria yang akan membela kehormatan mereka…. Dan disana telah ada penduduk pribumi yang siap mengulurkan bantuannya untuk saudara-saudara mereka…. Dan tak luput,.. disana pula ada wanita-wanita yang seiya-sekata dan sejalan dengan kesiapan para kesatria dari kalangan lelaki mereka…. memberikan yang terbaik untuk saudara-saudaranya dari kalangan muhajirin yang datang kenegeri mereka,.. yang siap sama-sama merasakan suka dan duka,.. bahagia dan derita,… kesediannya untuk ikut andil mengibarkan bendera tauhid dan mendukung tersebarnya dakwah islam ke seluruh belahan bumi, walau harta dan diri mereka menjadi taruhannya.

ALLÂHU AKBAR…………….. !!!

Wallâhu a'lam.

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Al-ghuraba - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template