Headlines News :
'
Home » » Infaq, wujud komitmen

Infaq, wujud komitmen

Written By Al-ghuraba on Senin, 02 Agustus 2010 | Senin, Agustus 02, 2010

Saat Mobilisasi umum diserukan dimadinah, kaum Musliminpun menyambutnya dengan suka cita. Rasulullah saw menyerukan untuk mempersiapkan perbekalan yang maksimal, sebab mereka akan melakukan perjalanan yang amat jauh, perjalanan 2 kali 15 hari pulang pergi menuju Tabuk dan 20 hari ditempat tujuan, tempat dimana pasukan muslimin akan menghadang pasukan Romawi yang telah mengerahkan kekuatannya.Perjalanan nan panjang untuk sebuah pertempuran yang memerlukan jumlah personal yang banyak dalam sejarah Islam saat itu.Demikian pula alat angkut transportasi sekaligus kendaraan tempur berupa unta dan kuda dalam jumlah yang tidak kalah banyaknya, dan bisa dibayangkan berapa banyak logistik yang harus disiapkan untuk perang yang besar ini ?

Para shahabatpun berlomba-lomba menyiapkan kendaraannya, diantara mereka ada yang memang menaiki kendaraan miliknya sendiri, dan ada pula yang naik kendaraan yang disiapkan oleh "pengurus" dibawah komando Rasulullah saw, yang mana hal ini didapatkan dari infaq para shahabat yang menyumbangkan harta dan kendaraannya untuk perjuangan demi mengharap ridla ALLAH semata.Maka berbondong-bondonglah kaum muslimin menyerahkan infaknya,diantara mereka ada yang menginfakkan hartanya dalam jumlah yang besar, dan ada pula yang menginfakkan hartanya dalam jumlah yang sedikit karena memang kemampuannya tidak bisa lebih dari itu,yang kemudian tidak lepas dari ejekan dan cemoohan orang-orang munafik yang memperolok-olok siapa saja yang infaqnya sedikit,dengan berkata bahwa ALLAH tidak butuh dengan harta yang sedikit itu.Tetapi begitulah sifat munafik, dia selalu menyakiti kaum Muslimin yang bersungguh-sungguh didalam amalnya, bahkan mereka berani menyakiti Rasulullah saw.

Utman bin 'affan terus menerus bersedekah untuk jihad ini sampai total yang dia serahkan sebanyak 900 unta beserta perbekalan yang dibawanya dan 100 kuda, sedang uangnya 200 uqiyah perak (=+ Rp.566 jt) dan 1000 dinar emas (= + Rp.850 jt). Lalu datang Abdurrahman bin auf datang dengan membawa 200 uqiyah perak (yg senilai 666,6 dinar emas=+Rp.566 jt). Sementara Abu Bakar ash-shiddiq menginfakkan seluruh hartanya yang berjumlah 4000 dirham (=+ Rp.283,305 jt), dia tidak menyisakan untuk keluarganya selain ALLAH dan Rasul-Nya.Beliau adalah orang yang pertama yang mensedekahkan hartanya. Begitu pula Umar datang dengan ½ hartanya, al-Abbas infaq dengan harta yang banyak.Tidak ketinggalan shahabat-shahabat senior seperti Tholhah, Sa'ad bin Ubadah dan lain-lain. Adapun Ashim bin Adi datang dengan membawa 90 wasaq kurma (= + 13,5 ton). Semua kaum muslimin berpartisipasi dalam infaq ini, tak terkecuali yang kemampuannya terbatas datang walau dengan menyerahkan 1 mud (=+600 gr) atau 2 mud gandum. Sedang para wanita menyerahkan cincin, kalung dan anting-antingnya.

Pasukan yang berangkat saat itu mencapai 30.000 mujahidin dari kalangan shahabat. Pasukan terbesar sepanjang sejarah perjalanan Rasulullah saw untuk masa 50 hari meninggalkan madinah. Tidak ada lelaki yang tertinggal dimadinah kecuali orang-orang yang ditunjuk atau mendapat izin dari Rasulullah saw, 3 orang shahabat yang tertinggal tanpa alasan, dan orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya diantara orang-orang munafik. Adapula diantara muslimin yang tidak bisa berangkat walau mereka sangat menginginkannya lantaran tidak cukupnya kendaraan yang akan membawa mereka, merekapun kembali pulang dengan deraian airmata karena sedih.

wujud komitmen

Selain pelajaran mengenai betapa pentingnya sebuah jamaah yang menyatukan kaum muslimin dibawah satu kepemimpinan untuk melaksanakan ketaatan kepada ALLAH, kita juga dapat melihat arti infaq untuk kemudian dikelola untuk kepentingan iqomatuddin (menegakkan Dien).

Ketika perintah-perintah ALLAH harus dilaksanakan secara bersama-bersama (baca: amal jama'i) seperti jihad fii sabilillah dan upaya jangka panjang untuk menegakkan syari'at islam, lebih khusus dalam kondisi ketika terancamnya kehormatan Dien, maka selain andil secara fisik sebagai bentuk pengorbanan yang maksimal,juga tidak lepas dari diperlukannya dana-dana yang dikumpulkan dari semua lapisan. Banyak dalil-dalil dari alquran dan assunnah yang menerangkan keutamaan infaq fii sabilillah, bahkan kalimat infaq selalu digandengkan dan lebih didahulukan daripada berjihad dengan jiwa. seperti firman ALLAH (yang artinya) :" Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar". (QS.49:15).

Namun infaq untuk "perjuangan" menegakkan Dien tidaklah banyak difahami oleh banyak kalangan, kecuali sebatas membangun masjid, sekolah, panti asuhan anak yatim dan yang serupa. Dalam tataran kemasyarakatan hal ini tidak salah memang, akan tetapi akan lebih baik bila kaum muslimin juga tidak melupakan untuk berfikir lebih jauh, andil dalam agenda menegakkan syari'ah dimuka bumi dan membela kehormatan agama dibeberapa tempat yang dilecehkan orang-orang kafir, musuh Islam. Ini tidak bisa kecuali dikelola oleh "pengurus" yang jujur dan bersungguh-sungguh dalam upaya iqomatudien, setelah melihat bahwa jamaah yang dikelolanya memiliki aqidah yang lurus dan bersih, serta tujuan yang jelas.

Bagi anggota sebuah jamaah dengan kriteria diatas, maka infaq merupakan bentuk komitmen minimal yang real. Terlebih jika kita tidak bisa andil langsung dengan jiwa dan raga kita.

Untuk peraihan sebuah cita-cita yang mulia, berkorban dengan cara bersikap sederhana dalam memenuhi keperluan hidupnya adalah lebih baik. Terlebih secara umum Islam mengajarkan untuk bersikap zuhud terhadap dunia. Kalaulah setiap muslim mampu bersikap sederhana dalam memenuhi keperluan harian hidupnya, kemudian potensi hartanya dialihkan untuk "perjuangan" sungguh ini sangat terpuji. Betapa banyak seorang muslim atau bahkan anggota harakah islam yang boros dalam pemakaian biaya hidupnya. Belum lagi ditambah dengan pengeluaran-pengeluaran yang tidak penting yang bersifat accessories. Sandalnya yang dibeli baru padahal yang lama masih bisa dipake. HP yang berganti-ganti untuk mendapatkan fitur-fitur yang disukai dan tidak merasa qona'ah dengan yang sudah ada, jajan makanan-makanan tambahan hanya untuk memenuhi syahwat perut belaka, bepergian ke tempat-tempat yang tidak bermanfaat dan tidak penting yang hanya akan menguras dompet saja, atau menambah mengkoleksi pakaian, atau pemakaian biaya pulsa yang mengalir bagai air.

Potret para shahabat didalam kesederhanaan sungguh menakjubkan. Mereka diketahui aghniya (orang kaya) kalau zakatnya dalam jumlah besar, banyak infaqnya atau sering bershodaqoh. Mereka tidak menampakkan kekayaan pada pakaiannya rumahnya atau kendaraannya dan penampilan serta perlengkapan hidupnya tidak berbeda jauh dari umumnya kaum muslimin,termasuk yang faqir.Tuntunan Nabi saw sendiri membimbing kita untuk sederhana, dalam do'a yang dia lantunkan :"…. dan (aku mohon kepada-Mu Yaa ALLAH) kesederhanaan baik dalam keadaan faqir maupun kaya…… "

Sungguh seharusnya kita harus malu dengan apa yang ditempuh orang yahudi. Diantara keluarga mereka, selalu menyisihkan uang untuk kepentingan zionisme, dan mereka relakan dari jatah gula yang biasa mereka konsumsi pada teh yang meraka minum setiap harinya. 1 orang dari mereka menyisihkan uang seharga 4 batang gula untuk jatah 4 gelas teh setiap harinya sehingga mereka minum tanpa gula. Kemudian mereka tabungkan untuk menyantuni orang-orang miskin yahudi, yang sebenarnya mereka menabung untuk bisa mempersenjatai setiap warga yahudi dan mendorong mereka untuk berimigrasi ke palestina.

Islam lebih agung dan lebih mulia dari mereka orang-orang kafir. Dan pahala dari ALLAH siap menanti anda ketika anda menginfakkan hartanya di jalan ALLAH, dengan lipatan pahala 700 kali, atau lebih dari itu sesuai kehendak ALLAH Azza wa Jalla . Sungguh disana ada syi'ar islam yang dinodai, ada saudara-saudara kita yang yatim, yang janda, yang terluka, yang dipenjara, yang lapar, yang perlu tempat berteduh, yang kehausan, yang siap menolong dengan jiwa tapi tiada dana, yang dimurtadkan karena sakit yang diderita, dan yang faqir tapi menahan diri untuk tidak meminta… sungguh mereka menjerit dan mengeluhkannya kepada ALLAH atas apa yang menimpa mereka, …..kini, sejauhmana kepedulian kita….?

Wallahu a'lam.


 


 


 

Share this article :

1 komentar:

  1. benar, infaq memang sebagai bentuk komitmen kita kpd perjuangan menegakkan islam, kalau jihad saja gak pergi, truss infaq juga tidak, truss apa andil dia utk perjuangannya ?

    BalasHapus

alhamdulillah, semoga blog ini tetap eksis dan bermanfaat untuk ummat, bagi izzul Islam walmuslimin.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Al-ghuraba - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template