Headlines News :
'
Home » » ALLÂH akan mencukupi

ALLÂH akan mencukupi

Written By Al-ghuraba on Selasa, 25 Januari 2011 | Selasa, Januari 25, 2011

*** Edisi Selasa, 20 Shafar 1432 H

Ada seorang shahabat masuk ke masjid Rasûlullâh n pada selain waktu shalat. Disana ia melihat seorang anak kecil yang umurnya belum sampai 10 tahun. Anak itu sholat dengan begitu khusyu'

Maka shahabat itu menunggu hingga anak kecil itu menyelesaikana shalatnya. Begitu selesai, ia mendatangi anak kecil tersebut dan bertanya, "Hai anakku, putra siapakah engkau ?"

Mendengar pertanyaan itu, sang anak kecil menundukkan kepalanya dan airmatanya pun meleleh dipipinya .Sebentar kemudian ia mengangkat kepalanya seraya berkata,"Paman, saya ini seorang yatim".

Shahabat itu menjadi iba kepadanya, lalu ia menawarkan diri," Wahai anakku, maukah engkau kuangkat sebagai anakku ?"

Anak kecil itu bertanya,"Apakah kalau aku lapar , paman akan memberiku makan ?"……"iya" jawab shahabat itu……

"Apakah kalau aku tidak berpakaian , paman akan memberiku pakaian ?"…. "iya"…..

"Apakah kalau aku sakit, paman sanggup menyembuhkanku ?"…… "Tidak ada jaminan wahai anakku", jawab shahabat itu.

"Apakah kalau aku mati, paman sanggup menghidupkanku ?"….. "Tidak mungkin anakku ".

Maka anak kecil itu berkata,"kalau begitu , biarkan aku diurus oleh Dzat …. (kemudian ia membaca ayat): …ALLADZÎ KHOLAQONÎ FAHUWA YAHDÎN—WALLADZÎ HUWA YUTH´IMUNÎ WAYASYQÎN—WA IDZÂ MARIDHTU FAHUWA YASYFÎN—WALLADZÎ YUMÎTUNÎ TSUMMA YUHYÎN—WALLADZÎ ATHMA´U AYYAGHFIROLÎ KHOTÎATÎ YAUMADDÎN….. * (Biarkan aku diurus oleh Dzat) ……"Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku,… dan Robbku, Dialah Yang memberi makan dan minum kepadaku,… dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,… dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), …dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat".( QS. asyu'aro : 78-82).

Shahabat itu hanya bisa terdiam mendengar keteguhan anak kecil ini. Ia tertegun dengan pemahaman dan tawakkalnya anak itu diusianya yang masih belia. Iapun akhirnya membiarkan anak kecil itu seraya bergumam, " Aku beriman kepada ALLÂH ! Siapa yang bertawakkal kepada ALLÂH , Maka Dia akan mencukupinya ! ".

Sungguh, hari ini jarang kita temukan keteguhan tawakkal seorang muslim diusia yang sudah dewasa sekalipun, apalagi di usia yang masih belia seperti kisah diatas. Tetapi begitulah "lingkungan" dan didikan umat pada generasi islam terdahulu. Keimanan,.. keteguhan,.. keberanian,… dan sifat-sifat perwira sudah melekat pada jiwa-jiwa mereka tak terkecuali anak kecil. Tatanan Hukum islam yang diterapkan ditengah-tengah masyarakat sangat membantu & berpengaruh kepada moral masyarakat dalam keimanan yang sesungguhnya, ia membentuk lingkungan-lingkungan yang "bersih" yang bisa menjadikan penduduknya menjadi "bersih", ditambah dengan faktor keturunan dimana para orang tua mereka adalah orang-orang yang cemerlang dalam keimanan, ilmu, ibadah dan kejuangan mereka.

Sedang bila tatanan yang diterapkan itu merupakan tatatan hukum jahiliyah (karena bukan syariat islam), maka ia akan membentuk pola masyarakat yang "kotor". Menjadikan manusia menjadi rakus, jauh dari keimanan, dan membentuk generasi yang cengeng, dan pengecut. Tidak mengherankan jika hal ini terjadi, sebab tatanan jahiliyah dilandasi hawanafsu yang menjurus kepada perbuatan-perbuatan keji dan karakter-karakter yang rendah. Tatanan mereka dibangun berdasarkan pertimbangan materi belaka dan keuntungan-keuntungan duniawi yang semu. Sehingga manusia lambat laun akan terbentuk pola hidup yang rendah dengan selalu mengedepankan rasio akal dan raihan-raihan yang besifat materi. Menghalalkan segala cara dan tidak peduli dengan nilai-nilai yang agung dalam hidupnya.

Prinsip tawakkal yang digambarkan dalam kisah diatas cukup menjadikan pelajaran bagi kita akan seberapa jauh didikan yang ditanamkan kepada anak-anak kita. Ia merupakan perkara penting yang harus selalu diajarkan kepada anak-anak , dan sudah barang tentu yang paling penting : teladan yang baik dari para pendidik dan orang tua, apalagi dizaman ini, saat dimana lingkungan yang akan membentuk karakter manusia yang "baik" sudah semakin langka seiring dengan diterapkannya tatanan jahiliyah yang sudah diterangkan diatas.

Tawakkal seseorang adalah diantara tolok ukur keimanan yang dimilikinya. Ia merupakan perbendaharaan yang indah yang menghiasi segala tindak-tanduk dan setiap langkah yang ditempuhnya. Ia laksana cahaya yang akan menerangi jiwanya dan sikap perilakunya. Betapa tidak, sebab tawakkal adalah ketergantungan kepada ALLÂH , ketergantungan yang total kepada Dzat yang tidak bisa dilihat, begitu pula janji-janji-Nya yang bersifat ghaib yang hanya di percayai dan diyakini oleh orang-orang yang memiliki keimanan. Dan Semakin kuat keimanannya , maka ketergantungan kepada ALLÂH semakin kuat pula. Dia tidak lagi merasa was-was dan khawatir akan bencana yang akan menimpanya selagi ia masih memiliki Rabb yang ia seru disetiap waktu, Yang Maha memiliki segala perbendaharaan dilangit dan dibumi yang akan mencukupi keperluannya. Inilah jiwa-jiwa yang agung dengan pertimbangan-pertimbangan yang "imani" yang selalu menghiasinya.

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

"….Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya…..." (QS.at-thalaq :3)

Seorang tokoh salaf, Hatim al-ashom pernah ditanya mengenai cara dia bertawakkal. Ia menjawab," Aku tahu bahwa rezekiku tidak dimakan orang lain, karena itu jiwaku menjadi tenang… Aku tahu, amalanku tidak akan dikerjakan oleh orang lain, sehingga aku menyibukkan diri mengerjakannya,… Aku tahu, kematian akan menjemputku tanpa terduga, sehingga aku bersegera untuk menyambutnya… Dan aku tahu bahwa pandangan ALLÂH tidak pernah luput dariku, sehingga aku selalu malu kepada-Nya, dimanapun aku berada".

Ada sebagian lain yang mengatakan, "Setiap pagi,syaithân datang kepadaku dan berkata, "apa yang akan kau makan dan dimana kau akan tinggal ?". Maka aku jawab, "aku akan makan kematian,.. mengenakan kain kafaan.. dan tinggal di liang kubur".

Mereka juga mengatakan," Jika engkau beramal, ingatlah bahwa ALLÂH melihatmu,.. jika engkau berbicara, ingatlah bahwa ALLÂH mendengarkanmu,.. Dan jika engkau diam, ingatlah bahwa ALLÂH mengetahui semua tentang dirimu !"

.. Dan kepada ALLÂH semata kita memohon pertolongan dan petunjuk-Nya.

***Disarikan dari buku,"Bertaqwa tapi tak dikenal, Profil manusia mulia yang tidak tercatat oleh tinta sejarah" (terjemahan dari kitab Al-Atqiyaa al-akhfiyaa; karya Sa'id Abdul Azhim; penerbit WIP (Wacana Ilmiah Press).

Share this article :

2 komentar:

  1. Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kita perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

    BalasHapus

alhamdulillah, semoga blog ini tetap eksis dan bermanfaat untuk ummat, bagi izzul Islam walmuslimin.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Al-ghuraba - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template