Headlines News :
'
Home » » Pernikahan & Cita-Cita Agung Ke-Ummat-an

Pernikahan & Cita-Cita Agung Ke-Ummat-an

Written By Al-ghuraba on Rabu, 02 Maret 2011 | Rabu, Maret 02, 2011

*** Edisi Selasa, 26 Rabi’ul Awwal 1432 H

Pernikahan seringkali menjadi momen penting yang diperhatikan dalam hidup seseorang. Ia seolah menjadi titik start untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya. Bahkan tidak jarang sejak awal pernikahan, seseorang berazam untuk memperbaiki diri dari segala kekurangan atau bahkan bentuk-bentuk dosa yang dilakukannya.

Tak mengherankan jika hal ini terjadi, sebab setelah ia menikah kini ia hidup tidak sendirian lagi. Ada orang lain disampingnya yang akan membantu mengontrol tindak tanduknya, mencermati segala aktifitasnya, memperhatikan akhlak perangainya, melihat kekurangannya dan mengoreksi kesalahannya. Sedang taruhannya jika ia tidak mau berusaha merubah keadaannya menjadi lebih baik, adalah berkurangnya kecintaan dari orang yang dicintainya, atau bahkan hancurnya rumah tangga yang dijalinnya yang dahulu ia pernah dambakan bisa mendapatkan kebahagian bersamanya.

Sejuta harapan dan angan-anganpun dipancangkan. Senyum kebahagiaan mengiringi langkah awal rumahtangga untuk kemudian mengarunginya dengan bayangan harapan yang didambakannya. Dan planningpun sudah dibentangkannya, mereka sepakat untuk bahu-membahu meraihnya bersama orang yang dicintai. Namun seringkali harapan dan angan-angannya itu hanya sebatas apa yang dia inginkan dari kesenangan hidup dunia semata. Dan acapkali apa yang mereka rencanakan hanya sebatas target-target pribadi dan pasangannya saja , tidak lebih...!. Hidup berkelayakan, fasilitas rumahtangga tersedia, memiliki rumah, ada kendaraan, pasangan yang mencintai dan dicintai dan anak-anak yang berpendidikan.

Atau kalaupun mempunyai harapan lebih, dia berangan-angan memiliki istri yang setia, suami yang bijaksana, anak yang cerdas yang sholih dengan akhlak yang baik, bisa membantu orang lemah dan menyambung tali silaturahmi. Tidak ada yang salah memang dalam hal ini, apalagi dalam katagori yang kedua. Namun sedikit sekali dari mereka yang menikah memiliki cita-cita yang lebih besar dari hanya sekedar meraih apa yang diinginkan untuk kepentingan pribadi dia semata.

Dalam semua kondisi, setiap orang Mukmin yang melewati jenjang pernikahan semestinya tidak hanya memikirkan dan menginginkan cita-cita yang bersifat pribadi saja. Akan tetapi akan lebih baik dan lebih mulia jika dia juga memiliki cita-cita yang lbh besar dan lbh agung,... yaitu CITA-CITA YG BERSIFAT KEUMMATAN....yaitu untuk bisa menyebarkan islam , menegakkannya dan memuliakannya. Ya,.. cita-cita yang bersifat ke-UMMAT-an yang dengannya dia jadikan rumah tangga yang dijalinnya untuk bisa ikut andil dalam tersebarnya Tauhid ke muka bumi dan tegaknya syariat ALLÂH diatasnya.

Apalagi dalam kondisi hari ini dimana Dienul-islam menjadi bulan-bulanan musuh ALLÂH dan kaum muslimin seolah tidak memiliki kemuliaan lagi. Syariat ALLÂH yang tidak ditemukan ditegakkan dimuka bumi, ummat islam yang semakin jauh dan dijauhkan dari pemahaman islam yang lurus dan bersih, bentuk-bentuk maksiyat yang digelontorkan oleh orang-orang kafir, penguasa-penguasa yang menerapkan hukum jahiliyah dan lebih berwali kepada orang-orang kafir, akhlaq mulia yang semakin pudar dari masyarakat islam, kaum muslimin (di banyak tempat) yang dianiaya secara fisik oleh musuh-musuh ALLÂH karena alasan keislaman mereka … dan nilai-nilai syar’i serta syi’ar islam yang semakin disimpangkan oleh wali-wali syaithan. Kesemunya itu akan semakin menjadi alasan mengapa setiap pasangan orang mukmin yang beriman harus memiliki cita-cita plus yang bersifat ke-ummat-an.

Bila kita memperhatikan generasi pendahulu dari kalangan salaf, maka kita akan temukan bahwa mereka memperhatikan perkara ini. Bahkan sejak awal pemilihan calon pasangan hidupnya benar-benar diperhatikan. Ia tidak hanya sekedar pertimbangan “cinta” dan “sayang” semata., ia juga tdk sekedar berharap hidup bahagia dg pasangannya... !... Tetapi lebih daripada itu. Begitu pula dalam bagamaina mereka mengarungi rumahtangganya dan mendidik anak-anaknya. Sungguh kita akan dapatkan bahwa mereka benar-benar memiliki cita-cita yang agung untuk menyebarkan islam dan menegakkanya, , serta mengembalikan kemuliaan islam dan kejayaannya.

Suami yang sholih dan mujahid, … istri yang setia dengan pengorbanannya dalam mendampingi suami yang senantiasa disibukkan dengan urusan keummatan dalam dakwah dan jihad Fii sabilillah.… dan anak-anak yang digembleng dengan penuh tanggung jawab hingga mereka memiliki aqidah yang kokoh, pemahaman islam yang dalam ,akhlak yang mulia dan keberanian yang hebat. Sehingga anggota keluarga semuanya diarahkan untuk menjadi pioneer-pioneer bagi menjadikan islam sebagai Dien yang dipeluk oleh umat manusia di muka bumi, dengan segala pengorbanan yang siap dipersembahkannya untuk kemuliaan Dien-ALLÂH.

Bila setiap keluarga mukmin memiliki cita-cita yang agung seperti ini, niscaya ummat islam akan memiliki harga diri kembali dihadapan ummat yang lain. Sebab arus gelombang kebangkitan ummat akan muncul dari setiap rumah orang mukmin diseluruh belahan dunia.

Sungguh kehidupan Ali bin abi thalib dan Fathimah dalam mengarungi rumahtangganya dilewati dengan segala kesulitan hidup, tetapi mereka menjadi pasangan keluarga yang memiliki peran yang dahsyat dalam tegaknya islam dimuka bumi. Ali bin abi thalib radhiyallahu anhu yg sibuk dg tugas2 Perang Fii sabililillah,.. dan Fatimah radhiyallahu anha yg selalu setia mengurus anak2 dan melayani suami dg penuh cinta kasih. Pasangan Zubair ibnu Al-Awwam dan Asma binti Abi Bakr menjadi ikon dalam hal keberanian dan pengorbanan yang tiada tara dalam sejarah islam, dari sinilah lahir Abdullah bin Zubair yang gagah berani membela al-Haq sampai akhir ajalnya atas didikan Asma yang gigih sebagai seorang ibu mujahidah, begitu pula lahir dari rahimnya seorang ulama yang zuhud dan waro` di zamannya,yaitu Urwah bin az-Zubair.

Ummu Sulaim dan Abu tholhah suaminya sebagai teladan dalam hal pengorbanan menolong orang-orang muhajirin. Keluarga ini mendapat pujian dari atas langit ketujuh karena kesungguhannya dalam mencintai saudaranya seiman. Dari pasangan ini lahir 9 anaknya yang kesemuanya hafal al-quran. Pasangan ini benar-benar kokoh dan setia dalam membela Rasûlullâh Shollallâhu ´alaihi wasallam dan al-Haq yang dibawanya, tak jarang mereka mendampingi Rasûlullâh dalam pertempuran yang bersimbah darah melawan orang-orang kafir.

Begitu pula al-Khansa, seorang wanita penyair kesohor dari kalangan shahabiyah. Yang mana ketika masa jahiliyah ia senantiasa bersenandung syair ratapan atas kematian saudaranya dimedan perang. Akan tetapi setelah itu, saat cahaya islam telah menyinari hatinya, dia menjadi contoh keteladanan seorang ibu dalam kerelaannya dengan kematian keempat anaknya sebagai syuhada pejuang islam dan pendekar al-Haq. Lihatlah,… sehari sebelum pertempuran terjadi bahkan ia memberikan semangat tempur kepada anak-anak yang dicintainya, untuk bertempur dengan gagah berani dan mati sebagai kesatria. Ia dengan sukacita mengantarkan kepergian 4 anaknya, dia merelakan buah hatinya dan denyut jantungnya ke kancah jihad demi tersebarnya Tauhid dan kemuliaan islam di bumi persia ,…. Ia berharap dapat menebus kesalahannya dimasa jahiliyah dan mengejar ketertinggalannya dalam meraih kebaikan disisi ALLÂH sehingga ia rela mengorbankan apa saja untuk Islam yang agung ini, satu-satunya Dien yang ALLÂH ridhai. Dan kini ini iapun rela mengorbankan ke 4 anaknya yang tercinta. Ia berharap dengan gugurnya keempat anaknya sebagai syuhada, ia mendapatkan kehormatan disisi ALLÂH dalam mempersembahkan yang terbaik untuk Dien-Nya….

Dan saat berita kematian 4 anaknya itu sampai kepadanya, ia sungguh seorang ibu yang tegar dan agung. Bahkan ia bangga dan bersyukur dengan berita ini seraya berkata, “Alhamdulillah,… segala puji bagi ALLÂH yang telah memberiku kemuliaan dengan kematian mereka. Aku berharap, ALLÂH akan mengumpulkanku dengan mereka ditempat limpahan kasih sayang-Nya”.

Demikianlah contoh dari para orang tua dan keluarga yang “baik”. Seperti itu pula para shahabat yang lain , para Tabi’ien dan Tabi’ut-Tabi’ien serta para pejuang islam dimasa lalu. Mereka benar-benar menjadikan rumah tangga mereka menjadi sarana dan lahan subur untuk mendidik anggota keluarga dan mencetak generasi briliyan yang cemerlang dalam agama dan kejuangan. Suami isteri bahu membahu untuk bersama seiya sekata ikut andil dalam perjuangan Dakwah dan Jihad, dengan segala pengorbanannya. Dan dalam waktu yang bersamaan mereka mendidik dan mengarahkan anak-anak mereka untuk menjadi Da’i-da’i, penyeru-penyeru ke jalan ALLÂH dan Mujahid-mujahid, pejuang-pejuang sejati dijalan-Nya, …. Hingga muncullah generasi yang cemerlang dalam pengetahuan Dien mereka dan lahirnya sosok-sosok yang handal dan kokoh dari para mujahid yang terlatih nan pemberani dalam sejarah kemuliaan islam.

Anak-anak yang dengan gagah mengibarkan panji islam dengan segenap pengorbanan mereka. Dengan harta mereka, dengan keringat mereka, dengan darah mereka. Sehingga cahaya islam tetap terpancar lewat perantaraan mereka. Diantara mereka tidak keluar dari salah satu dari 4 keistimewaan yang dimiliki. Menjadi Mujahid yang pemberani , ...dan atau Da’i (pendakwah islam) yang jujur, ....dan atau Ahli Ibadah yang zuhud,... dan atau Ulama Robbaniy (ulama yang lurus).

Putaran kejayaan islam dan kemuliaannya sangat tergantung dari seberapa besar cita-cita dan tonggak yang dipancangkan oleh setiap mukmin hari ini. Dan salah satunya bermula dari setiap keluarga mukmin dari rumah-rumah mereka. Setiap pasangan suami isteri dan rumahtangga islam sudah semestinya menjadikan rumahtangganya untuk memberikan andil terbesar bagi agama ALLÂH .

Maka tidakkah kita memiliki cita-cita yang agung dari pernikahan kita dan rumahtangga kita ....?!

*** Wallahu a’lam.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Al-ghuraba - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template