Headlines News :
'
Home » » Jujur kepada ALLÂH

Jujur kepada ALLÂH

Written By Al-ghuraba on Selasa, 15 Februari 2011 | Selasa, Februari 15, 2011

*** Edisi Selasa, 12 Rabiul awwal 1432 H.

Inilah kisah luhur tentang KEJUJURAN KEPADA ALLÂH yang mahal, sehingga ALLÂH pun berkenan menerima taubatnya yang agung.. Kisah tentang 3 orang shahabat Rasûlullâh n yang tertinggal pada perang Tabuk. Agungnya Kejujuran yang bersih… serta sebegitu tingginya nilai kebersamaan dalam barisan jihad Fii sabilillah bisa difahami dan dipetik hikmahnya dari kisah ini..

(Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam hadits no.4066) …Dari 'Abdullah bin Ka'ab bin Malik -Abdullah bin Ka'ab adalah salah seorang putra Ka'ab yang mendampingi Ka'ab ketika ia buta- berkata,' 'Saya pernah mendengar Ka'ab bin Malik menceritakan peristiwa tentang dirinya ketika ia tertinggal dari Rasulullah n dalam perang Tabuk.' Ka'ab bin Malik berkata,' 'Saya tidak pernah tertinggal menyertai Rasulullah n dalam peperangan yang beliau ikuti kecuali perang Tabuk, akan tetapi saya juga pernah tertinggal dalam perang Badar. Hanya Rasulullah n tidak pernah mencela seorang muslim yang tidak turut dalam perang Badar. Yang demikian karena pada awal mulanya Rasulullah n dan kaum muslimin hanya ingin mencegat kafilah dagang (kaum kafir) Quraisy yang sedang berada dalam perjalanan hingga Allah mempertemukan kaum muslimin dengan musuh mereka tanpa waktu yang di sepakati sebelumnya.

Saat itu saya ikut serta bersama Rasulullah pada malam Aqabah ketika kami berjanjisetia untuk membela Islam. Menurut saya, turut serta dalam perang Badar tidak sebanding dengan turut serta dalam malam Aqabah, meskipun perang Badar lebih populer kebanyakan orang. Di antara cerita ketika saya tidak turut serta bersama Rasulullah dalam perang Tabuk adalah sebagai berikut; 'Belum pernah stamina saya betul-betul fit dan mempunyai keluasan harta daripada ketika saya tidak ikut serta dalam perang Tabuk tersebut. Demi Allah, sebelumnya saya tidak menyiapkan dua ekor hewan tunggangan sama sekali dalam pelbagai peperangan. Tetapi dalam perang Tabuk ini, saya bisa menyiapkan dua ekor hewan tunggangan.

Adalah sudah menjadi tradisi beliau n, beliau tidak pernah melakukan sebuah peperangan selain beliau merahasiakan tujuan peperangannya, hingga saat terjadilah perang tabuk ini, yang beliau nyatakan tujuan perangnya secara vulgar (terang-terangan). Akhirnya Rasulullah n pergi berangkat ke perang Tabuk pada saat musim panas yang terik,
menempuh perjalanan yang amat jauh dan penuh resiko serta menghadapi musuh yang berjumlah besar. Lalu Rasulullah n menjelaskan kepada kaum muslimin apa yang akan mereka hadapi bersamanya. Oleh karena itu, beliau memerintahkan kaum muslimin untuk mempersiapkan perbekalan perang yang cukup. Lalu beliau juga memberitahukan arah tujuan yang diinginkannya.

Pada saat itu, kaum muslimin yang menyertai Rasulullah n banyak sekali tanpa ditunjuk melalui surat tugas untuk berperang. Ka'ab berkata,' 'tidaklah seorang laki-laki absen dalam perang ini kecuali kecuali ia menduga bahwa ketidak sertaannya itu tidak akan di ketahui oleh Rasulullah n -selama tidak ada wahyu yang turun mengenai dirinya dari Allah k -. Rasulullah n pergi berperang ke perang tabuk ketika musim buah-buahan ranum dan pepohonan menjadi rimbun. Rasulullah n dan kaum muslimin bersiap-siap dan saya pun segera pergi untuk memperiapkan perbekalan bersama mereka. Lalu saya pulang, tetapi aku tidak membuat persiapan perbekalan sama sekali. Saya berkata dalam hati; 'Ahh, saya mampu mempersiapkan perbekalan sewaktu-waktu. Saya selalu dalam kondisi demikian hingga orang-orang semakin sungguh-sungguh persiapannya.

'Rasulullah n berangkat bersama kaum muslimin, sedangkan saya belum mempersiapkan perbekalan sama sekali.Lalu saya berkata, 'saya akan membuat persiapan satu atau dua hari setelah itu, lalu aku akan menyusul mereka. Kemudian saya berangkat setelah mereka bersiap-siap untuk berangkat, tapi saya pulang lagi dan saya tidak membuat persiapan sedikitpun. Kemudian saya berangkat pagi hari tetapi kembali lagi, dan saya tidak membuat persiapan sesuatupun. Saya senantiasa berada dalam kebimbangan hingga pasukan kaum muslimin telah jauh berangkat dan menuju kancah perang. Kemudian saya ingin menyusul ke medan pertempuran -tetapi hal itu hanyalah angan-angan belaka- dan akhirnya saya ditakdirkan untuk tidak ikut serta ke medan perang. Setelah Rasulullah n pergi ke medan perang tabuk, maka mulailah rasa sedih menyelimuti diri saya. Ketika keluar ke tengah-tengah masyarakat sekitar. Saya menyadari bahwasanya tidak ada yang dapat saya temui kecuali orang-orang yang jelas diselimuti kemunafikan atau orang-orang yang lemah yang diberikan uzur oleh Allah k.

Sementara itu, Rasulullah n tidak mengingat diri saya hingga beliau sampai di Tabuk. Kemudian, ketika beliau sedang duduk-duduk di tengah para sahabat, tiba-tiba beliau bertanya; 'Mengapa Ka'ab bin Malik tidak ikut serta bersama kita? ' Seorang sahabat dari Bani Salimah menjawab; 'wahai Rasulullah, sepertinya Ka'ab bin Malik tertahan oleh pakaiannya dan dia memandang dirinya dengan ketakjubannya' Mendengar ucapan sahabat tersebut, Muadz bin Jabal berkata,' 'buruk sekali ucapanmu itu! Demi Allah wahai Rasulullah, saya tidak mengetahuinya kecuali bahwasanya Ka'ab bin Malik itu adalah orang yang baik.' Kemudian Rasulullah n diam. Ketika beliau terdiam seperti itu, tiba-tiba beliau melihat seorang laki-laki yang memakai helm besi yang sulit di kenali. Lalu Rasulullah n berkata: 'Kamu pasti Abu Khaitsamah? ' Ternyata orang tersebut adalah memang benar-benar Abu Khaitsamah Al-Anshari, sahabat yang pernah menyedekahkan satu sha' kurma ketika ia dicaci maki oleh orang-orang munafik. Ka'ab bin Malik berkata,' 'Ketika saya mendengar bahwasanya Rasulullah n telah bersiap-siap kembali dari perang Tabuk, maka saya pun diliputi kesedihan.

Lalu saya mulai merancang alasan untuk berdusta. Saya berkata dalam hati; 'Alasan apa yang dapat menyelamatkan diri saya dari amarah Rasulullah? ' Untuk menghadapi hal tersebut, saya meminta pertolongan kepada keluarga yang dapat memberikan saran. Ketika ada seseorang yang berkata kepada saya bahwasanya Rasulullah n hampir tiba di kota Madinah, hilanglah alasan untuk berdusta dari benak saya.

Akhirnya saya menyadari bahwasanya saya tidak dapat berbohong sedikit pun kepada Rasulullah n. Oleh karena itu, saya pun harus berkata jujur kepada beliau. Tak lama kemudian Rasulullah n tiba di kota Madinah. Seperti biasa, beliau langsung menuju Masjid lalu sholat dua rokaat- sebagaimana kebiasaan beliau manakala tiba dari bepergian ke suatu daerah - untuk melakukan shalat. Ketika usai melakukan shalat, Rasulullah n langsung bercengkrama bersama para sahabat. Setelah itu, datanglah beberapa orang sahabat yang tidak ikut serta bertempur bersama kaum muslimin seraya menyampaikan berbagai alasan kepada beliau dengan bersumpah. Sedang jumlah mereka lebih dari delapan puluh orang. Ternyata Rasulullah menerima keterus terangan mereka yang tidak ikut serta berperang, membai'at mereka, memohon ampun untuk mereka, dan menyerahkan apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka kepada Allah.

Selang beberapa saat kemudian, saya datang menemui Rasulullah n. Setelah saya memberi salam, beliau tersenyum seperti senyuman orang yang marah. Kemudian beliau pun berkata,' 'Kemarilah! ' Lalu saya berjalan mendekati beliau hingga saya duduk tepat di hadapan beliau. Setelah itu Rasulullah n bertanya: 'Apa yang membuatmu tidak ikut serta (berperang bersama kami)? Bukankah kamu telah berjanji untuk menyerahkan jiwa ragamu untuk Islam? ' Saya menjawab; "benar, demi Allah seandainya saya duduk di dekat orang selain diri engkau, niscaya saya yakin bahwasanya saya akan terbebaskan dari kemurkaannya karena alasan, dan aku memiliki kemampuan untuk berargumentasi yang saya sampaikan.

Akan tetapi, ... Demi Allah, saya tahu jika sekarang saya menyampaikan kepada engkau alasan yang penuh dusta hingga membuat engkau tidak marah, tentunya Allah lah yang membuat engkau marah kepada saya. Apabila saya mengemukakan kepada engkau (wahai Rasulullah) alasan saya yang benar dan jujur, engkau akan memarahi saya dengan alasan tersebut, Sesungguhnya saya amat berharap ampunan Allah (dalam hal ini)… tidak ada , Demi Allah, sesungguhya tidak ada uzur yang membuat saya tidak ikut serta berperang. Demi Allah, saya tidak pernah memiliki kekuatan dan kelapangan yang melebihi kekuatan dan kelapangan saat itu tatkala saya tertinggal untuk ikut berjuang bersama anda.' (Mendengar pengakuan yang tulus itu), Rasulullah pun berkata: 'adapun orang ini telah berkata jujur dan benar. Oleh karena itu, berdirilah hingga Allah memberi keputusan tentangmu."

Akhirnya saya pun berdiri dan beranjak dari sisi beliau. Tak lama kemudian, ada beberapa orang dari Bani Salimah beramai-ramai mengikuti saya seraya berkata,' 'Hai Ka'ab, demi Allah, sebelumnya kami tidak mengetahui bahwasanya kamu telah berbuat suatu kesalahan/dosa. Kamu benar-benar tidak mengemukakan alasan kepada Rasulullah sebagaimana alasan yang dikemukakan para sahabat lain yang tidak turut berperang. Sesungguhnya, hanya istighfar Rasulullah untukmulah yang menghapus dosamu.'

(Ka'ab bin Malik berkata setelah itu); 'Demi Allah, mereka selalu mencerca saya hingga terlintas,saya ingin kembali lagi kepada Rasulullah n lalu saya dustakan diri saya.' Ka'ab bin Malik berkata,' 'Apakah ada orang lain yang telah menghadap Rasulullah n seperti diri saya ini? ' Orang-orang Bani Salimah menjawab; 'Ya. Ada dua orang lagi seperti dirimu. Kedua orang tersebut mengatakan kepada Rasulullah seperti apa yang telah kamu utarakan dan Rasulullah pun menjawabnya seperti jawaban kepadamu.' Ka'ab bin Malik berkata,' 'Lalu saya pun bertanya; 'Siapakah kedua orang tersebut hai para sahabat? ' Mereka menjawab; '(Kedua orang tersebut adalah) Murarah bin Rabi'ah Al-Amri dan Hilal bin Ummayah Al-Waqifi.' Ka'ab bin Malik berkata,' 'Kemudian mereka menyebutkan dua orang sahabat yang shalih yang ikut serta dalam perang Badar dan keduanya layak dijadikan suri tauladan yang baik. Setelah itu, saya pun berlalu ketika mereka menyebutkan dua orang tersebut kepada saya.

'(Ka'ab bin Malik berkata), 'Rasulullah n melarang kaum muslimin untuk berbicara dengan kami bertiga yang tidak ikut serta dalam perang Tabuk. Sejak saat itu, kaum muslimin mulai menjauhi dan berubah sikap terhadap kami bertiga hingga bumi ini terasa asing bagi kami. Sepertinya, bumi ini bukanlah bumi yang pernah saya huni sebelumnya dan hal itu berlangsung lima puluh malam lamanya.' Dua orang teman saya yang tidak ikut serta dalam perang Tabuk itu kini bersimpuh sedih di rumahnya sambil menangis, sedangkan saya adalah seorang anak muda yang tangguh dan tegar.

Saya tetap bersikap wajar dan menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasanya. Saya tetap keluar dari rumah, pergi ke masjid untuk menghadiri shalat jama'ah bersama kaum muslimin lainnya, dan berjalan-jalan di pasar meskipun tidak ada seorang pun yang sudi berbicara dengan saya. Hingga pada suatu ketika saya menghampiri Rasulullah n sambil memberikan salam kepadanya ketika beliau berada di tempat duduknya usai shalat. Saya bertanya dalam hati; 'Apakah Rasulullah n akan menggerakkan bibirnya untuk menjawab salam ataukah tidak? Kemudian saya melaksanakan shalat di dekat Rasulullah sambil mencuri pandangan kepada beliau. Ketika saya telah bersiap untuk melaksanakan shalat, beliau memandang kepada saya. Dan ketika saya menoleh kepadanya, beliaupun mengalihkan pandangannya dari saya.

'Setelah lama (terisolisir dengan ) keringnya dari sikap ramah kaum muslimin, saya pun pergi berjalan-jalan hingga sampai di pagar kebun Abu Qatadah. Abu Qatadah adalah putera paman saya (sepupu saya) dan ia adalah orang yang saya cintai. Sesampainya di sana, saya pun mengucapkan salam kepadanya. Tetapi, demi Allah, sama sekali ia tidak menjawab salam saya. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya kepadanya; 'Hai Abu Qatadah, saya bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apakah kamu tidak mengetahui bahwasanya saya sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya? ' Ternyata Abu Qatadah hanya terdiam saja. Lalu saya ulangi lagi ucapan saya dengan bersumpah seperti yang pertama kali. Namun ia tetap saja terdiam. Kemudian saya ulangi ucapan saya dan ia pun menjawab; 'Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui tentang hal ini.' Mendengar ucapannya itu, berlinanglah air mata saya dan saya pun kembali ke rumah sambil menyusuri kebun tersebut.

Ketika saya sedang berjalan-jalan di pasar Madinah, ada seorang laki-laki dari negeri Syam yang berjualan makanan di kota Madinah bertanya; 'Siapakah yang dapat menunjukkan kepada saya di mana Ka'ab bin Malik? ' Lalu orang-orang pun menunjukkan kepada saya hingga orang tersebut datang kepada saya sambil menyerahkan sepucuk surat kepada saya dari raja Ghassan. Karena saya dapat membaca dan menulis, maka saya pun memahami isi surat tersebut. Ternyata isi surat tersebut sebagai berikut; 'Kami mendengar bahwasanya temanmu (maksudnya adalah Rasulullah n) telah mengisolirmu, sementara Allah tidak menjadikanmu untuk hidup didalam negeri menyia-nyiakanmu (hina) seperti itu. Oleh karena itu, bergabunglah dengan kami, niscaya kami akan menolongmu.' Selesai membaca surat itu, saya pun berkata,' 'Sebenarnya surat ini juga merupakan sebuah bencana bagi saya.' Lalu saya memasukkannya ke dalam tannur (pembakaran) dan membakarnya hingga musnah.

Setelah empat puluh malam lamanya dari total limapuluh malam, datanglah seorang utusan Rasulullah n mendatangi saya sambil menyampaikan sebuah pesan; 'sesungguhnya Rasulullah n memerintahkanmu untuk menghindari istrimu.' Saya bertanya; 'Apakah saya harus menceraikan atau bagaimana? ' Utusan tersebut menjawab; 'Tidak usah kamu ceraikan. Tetapi, cukuplah kamu menghindarinya dan janganlah kamu mendekatinya.' Utusan ini juga mendatangi dua rekanku (yang tertinggal itu)., Lalu saya katakan kepada istri saya; 'sebaiknya dinda pulang terlebih dahulu ke rumah orang tua dinda dan tinggallah bersama dengan mereka hingga Allah memberikan keputusan yang jelas dalam permasalahan ini.' Ka'ab bin Malik berkata,' 'Tak lama kemudian istri Hilal bin Umayyah pergi mendatangi Rasulullah n sambil bertanya; 'wahai Rasulullah, Hilal bin Umayyah itu sudah lanjut usia dan lemah serta tidak mempunyai pembantu, apakah anda menbenci jika aku tetap bersamanya ?' Rasulullah n pun menjawab: 'tidak, akan tetapi dia tidak boleh "mendekatimu" . Isterinya Hilal berkata pula, 'sesungguhnya dia,Demi Allah, sekarang ia itu tidak mempunyai semangat hidup lagi. Ia senantiasa menangis, sejak mendapatkan permasalahan ini sampai sekarang.' Ka'ab bin Malik berkata,' 'Beberapa orang dari keluarga saya berkata,' 'Sebaiknya kamu (juga) meminta izin kepada Rasulullah dalam masalah istrimu ini. Karena Rasulullah n sendiri telah memberikan izin kepada istrinya Hilal bin Umayyah untuk merawat suaminya.

('Ka'ab bin Malik berkata),' 'Saya tidak akan meminta izin kepada Rasulullah n dalam persoalan istri saya ini. Karena, bagaimanapun, saya tidak akan tahu bagaimana jawaban Rasulullah nanti jika saya meminta izin kepada beliau sebab saya seorang lelaki yang masih muda belia.' Ka'ab bin Malik berkata,' 'Maka berlalulah waktu dalam kondisi seperti itu selama sepuluh malam hingga dengan demikian lengkaplah sudah lima puluh malam bagi kami terhitung sejak kaum muslimin dilarang untuk berbicara kepada kami'. (Ka'ab bin Malik berkata),' 'Tatkala saya melakukan shalat fajar pada malam yang ke lima puluh di bagian belakang rumah.

Ketika saya sedang duduk bersimpuh merenungkan nasib (seperti) yang Allah sebutkan, (waktu itu diri saya diliputi penyesalan dan kesedihan). Sungguh (saya merasakan) jiwa ini terasa sesak dan kini bumi yang luaspun terasa sempit bagi diri saya. Tiba-tiba saya mendengar seseorang berteriak dengan lantangnya menembus cakrawala; 'Hai Ka'ab bin Malik, bergembiralah! ' Maka saya pun tersungkur sujud dan mengetahui bahwasanya saya telah terbebas dari persoalan saya. Ka'ab bin Malik berkata,' 'Kemudian Rasulullah n mengumumkan kepada kaum muslimin saat (usai) shalat shubuh bahwasanya Allah telah menerima taubat kami. Lalu orang-orang pun segera memberi kabar gembira kepada kami, dan juga mendatangi dua orang teman saya untuk memberitahukan kepada mereka berdua.

Sementara itu, seorang laki-laki dari Bani Aslam datang kepada saya dengan mengendarai kuda dan berjalan menyusuri gunung, sedangkan suara mereka lebih cepat dari kuda mereka. Ketika orang itu tiba (didekatku) dengan kabar gembira itu, maka saya pun segera melepaskan dua pakaian luar saya dan memakaikan kepadanya sebagai imbalan jasa pemberitahuannya kepada saya. Demi Allah, pada saat itu yang saya miliki hanyalah dua pakaian luar tersebut. Akhirnya saya meminjam dua pakaian (kepada seorang sahabat saya) dan langsung mengenakannya. Setelah itu, saya pun menghadap Rasulullah, sementara orang-orang berduyun-duyun menemui saya, mereka mengatakan: 'selamat buatmu, dengan taubat yang Allah berikan untukmu'.

Lalu saya masuk ke dalam masjid, ternyata Rasulullah n sedang duduk-duduk yang dikitari oleh para sahabat. Tiba-tiba Thalhah bin Ubaidillah berdiri dan berjalan (dengan tergopoh-gopoh) mendekati saya serta menjabat tangan saya seraya mengucapkan selamat kepada saya. Demi Allah, pada saat itu tidak ada sahabat kaum Muhajirin yang berdiri untuk memberi selamat selain Thalhah. (Perawi hadits berkata),'Ka'ab tidak pernah melupakan penyambutan Thalhah tersebut.' Ka'ab berkata,' 'Lalu saya memberi salam kepada Rasulullah n yang kala itu wajahnya terlihat berseri-seri. Tak lama kemudian beliau berkata: 'Bergembiralah hai Ka'ab dengan sebaik-baik hari, karena kamu mendapatkan sebaik-baik hari yang telah kamu lalui sejak kamu dilahirkan oleh ibumu.' Ka'ab berkata,' 'Kemudian saya bertanya; 'wahai Rasulullah, apakah pengampunan untuk diri saya ini berasal dari anda ataukah dari Allah? ' Rasulullah menjawab; 'Dari Allah'. Dan adalah Rasulullah n manakala sedang bahagia, maka wajah beliau terlihat bersinar bagai bulan purnama dan kami memahaminya dari penampakan wajahnya itu'.

(Ka'ab berkata),' 'Ketika telah duduk di hadapan Rasulullah n saya berkata,' 'wahai Rasulullah di antara rasa syukur diterimanya taubat saya, maka saya akan menyerahkan sebagian harta saya ini sebagai sedekah kepada Allah dan Rasul-Nya.' Rasulullah n menjawab: 'sisakanlah sebagian hartamu, maka yang demikian itu lebih baik untukmu.' Akhirnya saya pun berkata,' 'Baiklah. Saya akan menyisakan harta saya yang menjadi bagian saya di Khaibar.' Saya berkata,' 'wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkan saya hanya karena kejujuran saya dan di antara taubat saya adalah bahwasanya saya tidak akan berbicara kecuali dengan sejujur-jujurnya selama sisa umur saya. Demi Allah, saya tidak mengetahui ada seseorang dari kaum muslimin yang di uji Allah dalam kejujuran ucapannya sejak saya ceritakan hal ini kepada Rasulullah n lebih baik daripada apa yang telah diujikan Allah kepada saya. (dan) saya tidak pernah berdusta dengan sengaja sejak saya ucapkan kata-kata itu kepada Rasulullah sampai hari ini.

Sungguh saya selalu berharap semoga Allah memelihara saya dari kedustaan dalam sisa umur saya.' (Ka'ab bin Malik berkata),'{Dan Allah menurunkan ayat (Al Qur'an) kepada Rasul-Nya n ,'Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar yang mengikuti Nabi dalam hari kesulitan setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang di tangguhkan penerimaan taubatnya hingga bila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun terasa sempit serta mereka telah mengetahui bahwasanya tidak ada tempat untuk berlindung dari siksa Allah melainkan kepada-Nya. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.}' (Qs. At-Taubah (9): 117-119).

(Ka'ab berkata,)' 'Demi Allah, tidak ada nikmat yang telah di berikan Allah kepada saya, setelah Allah menunjukan kepada saya Islam, yang saya anggap lebih besar daripada kejujuran. Seandainya saya berdusta, maka saya akan celaka sebagaimana orang-orang yang telah berdusta. Sesungguhnya Allah telah menyebutkan keburukan orang-orang yang berdusta ketika Allah menurunkan ayat yang berbunyi: {Kelak mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah apabila kamu kembali kepada mereka supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah kamu dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu najis dan tempat mereka adalah jahannam sebagai balasan dari apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepadamu supaya kamu ridla kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridla kepada orang-orang yang fasik itu.} (Qs. At-taubah (9): 95-96).

(Ka'ab berkata kepada dua orang temannya); 'Kita bertiga ini adalah orang-orang yang tertinggal dari sekumpulan kelompok yang telah diterima Rasulullah n ketika mereka bersumpah, lalu beliau membai'at mereka dan memohonkan ampun untuk mereka. Ternyata Rasulullah menangguhkan persoalan kita hingga ada keputusan dari Allah tentang persoalan kita ini. Oleh karena itu, Allah berfirman: {Dan terhadap tiga orang yang penerimaan taubat mereka di tangguhkan hingga bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas.} (Qs. At-taubah (9): 118).

(Ka'ab berkata) 'Apa yang disebutkan Allah dalam ayat ini bukankah tertinggalnya kami dari peperangan (seperti dalam ayat 95-96), melainkan ketidakikutsertaan itu dengan ditangguhkannya urusan kami dan dikembalikan kepada-Nya, berbeda dengan kelompok orang-orang (munafiq) yang bersumpah dan beralasan kepada Rasulullah n, lalu beliau menerima alasannya."

*** Wallahu a'lam

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Al-ghuraba - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template