Headlines News :
'
Home » » Kerasulan Nabi Muhammad Dan Pandangan Raja Heraklius

Kerasulan Nabi Muhammad Dan Pandangan Raja Heraklius

Written By Al-ghuraba on Kamis, 22 Desember 2011 | Kamis, Desember 22, 2011



*** Edisi Selasa, 24 Muharram 1433 H.

Berita akan kedatangan Rasul akhir zaman telah diketahui sejak lama oleh orang-orang Nashrani dan Yahudi, sebab didalam kitab mereka telah disebutkan secara jelas bahkan dengan tanda-tanda dan sifat-sifatnya.

Namun ketika Rasulullah Muhammad shollallahu alaihi wasallam benar-benar diangkat menjadi Nabi dan Rasul, tidak sedikit dari mereka yang mengingkarinya karena kedengkian mereka dan kesombongan mereka, atau karena takut kehilangan dunia mereka seperti Raja Heraklius, raja romawi yang takut kehilangan kekuasaannya walau dia sudah mengakui kebenaran yang dibawa oleh Muhammad shollallahu alaihi wasallam.

Berikut ini kami sajikan gambaran pandangan raja Heraklius terhadap kerasulan Muhammad shollallahu alaihi wasallam, yang dengannya kita akan dapat juga memetik pelajaran, bahwasannya tidak mustahil hari ini juga terjadi, dalam arti banyak diantara manusia, tak terkecuali para penguasa, para ilmuwan dan para tokoh kekafiran mengakui akan kebenaran islam, risalah yang dibawa oleh Rasulullah shollallahu alaihi wasallam namun mereka lebih memilih dunia mereka daripada mengikuti ajaran islam yang suci.

Hadits yang panjang ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam hadits No.6 :

Dari Abu Sufyan bin Harb berkata bahwa Heraclius menerima rombongan dagang Quraisy, yang sedang mengadakan ekspedisi dagang ke Negeri Syam pada saat berlakunya perjanjian antara Nabi n dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy. Lalu mereka menemuinya (Heraclius) saat mereka singgah di Iliya', yaitu Heraklius mengundang mereka untuk dialog di majelisnya, saat itu disekeliling Heraclius hadir para pembesar-pembesar Negeri Romawi. Heraclius berbicara dengan mereka melalui penerjemah. Heraclius berkata; "Siapa diantara kalian yang paling dekat hubungan keluarganya dengan orang yang mengaku sebagai Nabi itu?." Abu Sufyan berkata; maka aku menjawab; "Akulah yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan dia". Heraclius berkata; "Dekatkanlah dia denganku dan juga sahabat-sahabatnya."

Maka mereka meletakkan orang-orang Quraisy berada di belakang Abu Sufyan. Lalu Heraclius berkata melalui penerjemahnya: "Katakan kepadanya, bahwa aku bertanya kepadanya tentang lelaki yang mengaku sebagai Nabi. Jika ia berdusta kepadaku maka kalian harus mendustakannya”. (Abu Sufyan berkata) "Demi Allah, kalau bukan rasa malu akibat tudingan pendusta yang akan mereka lontarkan kepadaku niscaya aku berdusta kepadanya." Abu Sufyan berkata; Maka yang pertama ditanyakannya kepadaku tentangnya (Nabi n) adalah: "bagaimana kedudukan nasabnya ditengah-tengah kalian?" Aku jawab: "Dia adalah dari keturunan terhormat". Tanyanya lagi: "Apakah ada orang lain yang pernah mengatakannya sebelum dia?" Aku jawab: "Tidak ada". Tanyanya lagi: "Apakah bapaknya seorang raja?" Jawabku: "Bukan". Apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang lemah?" Jawabku: "Bahkan yang mengikutinya adalah orang-orang yang lemah". Dia bertanya lagi: "Apakah bertambah pengikutnya atau berkurang?" Aku jawab: "Bertambah". Dia bertanya lagi: "Apakah ada yang murtad disebabkan dongkol terhadap agamanya?" Aku jawab: "Tidak ada". Dia bertanya lagi: "Apakah kalian pernah mendapatkannya dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya itu?" Aku jawab: "Tidak pernah". Dia bertanya lagi: "Apakah dia pernah berlaku curang?" Aku jawab: "Tidak pernah. Ketika kami bergaul dengannya, dia tidak pernah melakukan itu". Berkata Abu Sufyan: "Aku tidak mungkin menyampaikan selain ucapan seperti ini". Dia bertanya lagi: "Apakah kalian memeranginya?" Aku jawab: "Iya". Dia bertanya lagi: "Bagaimana kesudahan perang tersebut?" Aku jawab: "Perang antara kami dan dia kemenangan silih berganti, terkadang dia mengalahkan kami terkadang kami yang mengalahkan dia".

Dia bertanya lagi: "Apa yang diperintahkannya kepada kalian?" Aku jawab: "Dia menyuruh kami; 'Sembahlah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan tinggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian. ' Dia juga memerintahkan kami untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, menjaga kesucian diru dan menyambung silaturrahim".

Maka Heraclius berkata kepada penerjemahnya: "Katakan kepadanya, bahwa aku telah bertanya kepadamu tentang keturunan orang itu, kamu ceritakan bahwa orang itu dari keturunan terhormat (bangsawan), maka begitulah para Rasul diutus ditengah keturunan kaumnya. Dan aku tanya kepadamu apakah pernah ada orang sebelumnya yang mengatakan seperti yang dikatakannya, kamu jawab tidak. Seandainya dikatakan ada orang sebelumnya yang mengatakannya tentu kuanggap laki-laki ini (Muhammad) meniru orang sebelumnya yang pernah mengatakan hal serupa. Aku tanyakan juga kepadamu apakah bapaknya ada yang dari keturunan raja, maka kamu jawab tidak. Aku katakan seandainya bapaknya dari keturunan raja, tentu laki-laki ini sedang menuntut kerajaan bapaknya. Dan aku tanyakan juga kepadamu apakah kalian pernah mendapatkan dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya, kamu menjawabnya tidak. Sungguh aku memahami, kalau kepada manusia saja dia tidak berani berdusta apalagi berdusta kepada Allah. Dan aku juga telah bertanya kepadamu, apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang lemah ?" Kamu menjawab orang-orang yang lemah yang mengikutinya. Memang mereka itulah yang menjadi para pengikut Rasul. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah bertambah pengikutnya atau berkurang, kamu menjawabnya bertambah. Dan memang begitulah perkara iman hingga menjadi sempurna. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah ada yang murtad disebabkan marah terhadap agamanya. Kamu menjawab tidak ada. Dan memang begitulah iman bila telah masuk tumbuh bersemi di dalam hati. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah dia pernah berlaku curang, kamu jawab tidak pernah. Dan memang begitulah para Rasul tidak mungkin curang. Dan aku juga sudah bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya kepada kalian, kamu jawab dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan melarang kalian menyembah berhala, dia juga memerintahkan kalian untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, menjaga kesucian diri dan menyambung silaturrahim. Seandainya semua apa yang kamu katakan ini benar, pasti dia akan menguasai kerajaan yang ada di bawah kakiku ini. Sungguh aku telah mengetahui bahwa dia saatnya keluar (diutus sebagai Rasul) tetapi aku tidak mengira bahwa dia keluar dari kalangan kalian, seandainya aku tahu jalan untuk bisa menemuinya, tentu aku akan berusaha keras menemuinya hingga bila aku sudah berada di sisinya pasti aku akan basuh kedua kakinya”.

Kemudian Heraclius meminta surat Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam yang dibawa oleh Dihyah untuk Penguasa Bushro, Maka diberikannya surat itu kepada Heraclius, maka dibacanya dan isinya berbunyi: "Bismillahir rahmanir rahim. Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya untuk Heraclius. Penguasa Romawi, Keselamatan bagi siapa yang mengikuti petunjuk. Kemudian daripada itu, aku mengajakmu dengan seruan Islam; masuk Islamlah kamu, maka kamu akan selamat, Allah akan memberi pahala kepadamu dua kali. Namun jika kamu berpaling, maka kamu menanggung dosa rakyat kamu, dan: {Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Rabb selain Allah". Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah} (QS.Ali Imran :64)."

Abu Sufyan menuturkan: "Setelah Heraclius menyampaikan apa yang dikatakannya dan selesai membaca surat tersebut, terjadilah hiruk pikuk dan suara-suara ribut, dan kami diusir. Aku berkata kepada teman-temanku setelah kami diusir keluar; "sungguh dia telah diajak kepada urusan Anak Abu Kabsyah. Heraclius mengkhawatirkan kerajaan Bani Ahsfar (Romawi)”. "Pada masa itupun aku juga khawatir bahwa Muhammad akan berjaya, sampai akhirnya (perasaan itu hilang setelah) Allah memasukkan aku ke dalam Islam. Dan adalah Ibnu An Nazhur, seorang Pembesar Iliya' dan Heraclius adalah seorang uskup agama Nashrani, dia menceritakan bahwa pada suatu hari ketika Heraclius mengunjungi Iliya' dia sangat gelisah, berkata sebagian komandan perangnya: "Sungguh kami mengingkari keadaanmu".

Selanjutnya kata Ibnu Nazhhur, "Heraclius adalah seorang ahli nujum yang selalu memperhatikan perjalanan bintang-bintang. Dia pernah menjawab pertanyaan para pendeta yang bertanya kepadanya; "Pada suatu malam ketika saya mengamati perjalanan bintang-bintang, saya melihat raja Khitan telah lahir, siapakah di antara ummat ini yang di khitan?" Jawab para pendeta; "Yang berkhitan hanyalah orang-orang Yahudi, janganlah anda risau karena orang-orang Yahudi itu. Perintahkan saja keseluruh negeri dalam kerajaan anda, supaya orang-orang Yahudi di negeri tersebut di bunuh." Ketika itu di hadapakan kepada Heraclius seorang utusan raja Bani Ghasssan untuk menceritakan perihal Rasulullah sholallalhu 'alaihi wasallam, , setelah orang itu selesai bercerita, lalu Heraclius memerintahkan agar dia diperiksa, apakah dia berkhitan ataukah tidak. Seusai di periksa, ternyata memang dia berkhitan. Lalu di beritahukan orang kepada Heraclius. Heraclius bertanya kepada orang tersebut tentang orang-orang Arab yang lainnya, di khitankah mereka ataukah tidak?" Dia menjawab; "Orang Arab itu di khitan semuanya." Heraclius berkata; 'inilah raja ummat, sesungguhnya dia telah terlahir." Kemudian heraclius berkirim surat kepada seorang sahabatnya di Roma yang ilmunya setaraf dengan Heraclius (untuk menceritakan perihal kelahiran Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam).

Sementara itu, ia meneruskan perjalanannya ke negeri Himsha, tetapi sebelum tiba di Himsha, balasan surat dari sahabatnya itu telah tiba terlebih dahulu. Sahabatnya itu menyetujui pendapat Heraclius bahwa Muhammad telah lahir dan bahwa beliau memang seorang Nabi. Heraclius lalu mengundang para pembesar Roma supaya datang ke tempatnya di Himsha, setelah semuanya hadir dalam majlisnya, Heraclius memerintahkan supaya mengunci semua pintu. Kemudian dia berkata; 'Wahai bangsa rum, maukah anda semua beroleh kemenangan dan kemajuan yang gilang gemilang, sedangkan kerajaan tetap utuh di tangan kita? Kalau mau, akuilah Muhammad sebagai Nabi!." Mendengar ucapan itu, mereka lari bagaikan keledai liar, lalu mereka mendapatkan semua pintu telah terkunci. Melihat keadaan yang demikian dan putus harapan mereka akan beriman (percaya kepada kenabian Muhammad), dia berkata, “kembalikanlah mereka kepadaku”, lalu ujarnya; "Sesungguhnya aku mengucapkan perkataanku tadi hanyalah sekedar menguji keteguhan hati anda semua. Kini aku telah melihat keteguhan itu." Lalu mereka sujud di hadapan Heraclius dan mereka ridla kepadanya. Demikianlah akhir kisah Heraclius”. Hadits Selesai.

Ada yang menarik dari hadits ini yang dipaparkan oleh Syekh Ibnu Hajar al-Atsqolani dalam Fathul-Bari ketika mengomentari hadits diatas, yaitu bahwa ternyata Raja Heraklius menyimpan dengan rapi surat seruan Islam yang dikirim oleh Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Dia menyimpannya dalam kotak emas sebagai penghormatan kepada Nabi dan kebenaran apa yang dibawanya. Surat itu disimpan rapi turun temurun kepada generasi raja setelahnya, hingga abad ke 5 seorang raja perancis yang bernama Frans. Dan kaum muslimin mengetahuinya ketika seorang panglima muslimin yang bernama Abdul-Malik bin Sa’ad bertemu dengan raja Frans, lalu raja itu menceritakan perihal surat Nabi yang masih disimpannya sejak raja Heraklius. Ketika Abdul-Malik melihat surat itu dan meminta izin untuk menciumnya ia tidak diperbolehkan.

Bahkan Raja Heraklius meyakini bahwa kerajaannya akan langgeng selama surat itu ada dan tersimpan baik, kebalikan dari kerajaan Kisra Persia yang merobek-robek surat yang dikirim oleh Rasulullah. Ketika Nabi menerima jawaban dari raja Kisra Persia , beliau berkata, “ALLAH akan menghancurkan kerajaannya”. Sedangkan ketika datang jawaban dari raja Romawi, beliau berkata, “ALLAH akan menjaga kerajaanya”.
Para raja setelah Heraklius meyakini akan kebenaran berita yang disampaikan Nabi ini, atau meyakini pengaruh kedudukan Nabi ketika mereka menghormatinya. Didalam keterangan lain yang disebutkan Ibnu Hajar (masih dalam penjelasan hadits diatas), ketika Saifudin Falih al-Mansyhuri diutus oleh Raja islam bernama Manshur Qalawun menemui raja maghribi, ia dipertemukan dengan Raja Frans.

Kemudian raja Frans berkata, “Aku akan memberikan hadiah yang sangat berharga”. Lalu dia mengeluarkan kotak yang terbuat dari emas, dan dikeluarkan dari kotak itu surat yang terlihat sudah lama sekali. Dia berkata,”ini adalah surat dari Nabimu yang dikirimkan kepada kakekku (Kaisar Heraklius), kami mewarisinya turun-temurun dan menyembunyikan dari rakyat kami. Bapakku mengatakan kepada kami, selama surat ini ada pada kami, maka kekuasaaan tetap berada pada kami”.

Subhaanallah… sedemikian percayanya mereka dengan keistimewaan kedudukan Nabi, walaupun mereka tidak jujur dengan hatinya sehingga tetap dalam kekafirannya, ini sama halnya dengan orang-orang Yahudi yang menamam banyak-banyak pohon Ghorqod agar bisa menjadi kawan mereka yang melindungi mereka kelak ketika ummat yahudi diperangi muslimin, dan hal ini mereka tempuh karena mereka percaya kebenaran berita yang diucapkan oleh Nabi akhir zaman, Muhammad shollallahu alaihi wasallam…. Namun kedengkian mereka, kesombongan mereka dan kecintaan mereka kepada dunia telah membuat mereka menipu ALLAH dan Rasul-Nya.

Wallahu A’lam.
Share this article :

1 komentar:

  1. KABAR BAIK BERITA BAIK

    Halo semuanya, saya SUWANDI dari Indonesia. Saya menyarankan Anda semua di sini untuk tidak mengajukan pinjaman di mana-mana untuk perusahaan atau pemberi pinjaman di halaman web ini, sebagian besar perusahaan di sini adalah palsu, curang dan penipuan, dan juga beberapa kesaksian di sini salah mereka adalah orang yang sama. Karena itu, berhati-hatilah untuk tidak menjadi mitra mangsa Indonesia. Saya ditipu empat kali sekitar Rp 200.000.000 untuk biaya pendaftaran, biaya transfer, bea masuk dan biaya asuransi, setelah pembayaran ini saya tidak mendapatkan pinjaman, tetapi mereka meminta saya untuk membayar lagi dan lagi. Ini akan menarik Anda untuk Mengetahui ada undang-undang tentang pembiayaan hukum atau aturan boardings ini dalam memperoleh pinjaman dari setiap hukum pemberi pinjaman atau perusahaan. Saya bersyukur bahwa saya menerima pinjaman cepat sebesar $ 250.000 dari sebuah perusahaan yang teman saya Achmad Halima telah perkenalkan. Perusahaan pinjaman yang benar dan dapat dipercaya (ALEXANDER ROBERT). Mereka sekarang adalah perusahaan terbesar di AS, Eropa, dan di seluruh Asia. Misi dan komitmen Anda kepada Alexander's Loan Company didedikasikan untuk memudahkan impian Anda dan membantu kita semua yang telah ditipu dan ditipu dalam proses mendapatkan pinjaman segera, memberi Anda keramahan kelas dunia. Perusahaan Pinjaman Alexander atau pemberi pinjaman tahu apa yang harus ada di sepatu Anda dan mereka berusaha keras untuk tidak melupakan perasaan itu. Mereka akan mendapatkan kepercayaan Anda dengan menyampaikan kepada Anda informasi yang perlu Anda ketahui, jika Anda perlu tahu dan hak untuk menawarkan pinjaman (pedagang atau pinjaman pribadi) dan layanan keuangan.

    Saya sangat berbakti untuk membantu negara saya mendapatkan pinjaman terhadap penipuan dan segera, email saya adalah (suwandirobby01@gmail.com) atau (achmadhalima@gmail.com)

    Hubungi saya atau (alexanderrobertloan@gmail.com) untuk informasi lebih lanjut, saya bersedia membantu. Tuhan memberkati kalian semua.

    BalasHapus

alhamdulillah, semoga blog ini tetap eksis dan bermanfaat untuk ummat, bagi izzul Islam walmuslimin.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Al-ghuraba - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template